Seoul – Industri musik Korea Selatan kembali mencatatkan pencapaian gemilang di pasar internasional. Nilai ekspor album K-pop berhasil menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah pada paruh pertama tahun 2026, mencerminkan semakin kuatnya pengaruh musik Korea di berbagai belahan dunia. Lonjakan ini didorong oleh tingginya permintaan global terhadap album fisik K-pop, terutama setelah kembalinya BTS dengan album studio terbaru mereka yang bertajuk ARIRANG.
Berdasarkan data perdagangan yang dirilis oleh Layanan Bea Cukai Korea (Korea Customs Service), nilai ekspor album K-pop sepanjang periode Januari hingga Juni 2026 mencapai US$257,48 juta atau sekitar Rp4,62 triliun. Angka tersebut meningkat drastis hingga 125 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, sekaligus menjadi rekor tertinggi yang pernah dicapai industri K-pop dalam enam bulan pertama suatu tahun.
Laporan yang dikutip Korea Times pada Jumat (17/7) menyebutkan bahwa salah satu faktor utama di balik lonjakan ekspor ini adalah perilisan album studio kelima BTS, ARIRANG, yang langsung mendapat sambutan luar biasa dari penggemar di berbagai negara. Antusiasme tinggi terhadap comeback grup tersebut tidak hanya meningkatkan penjualan album, tetapi juga memperkuat posisi BTS sebagai salah satu artis dengan pengaruh terbesar dalam industri musik global.
Para analis industri menilai bahwa pencapaian ini menunjukkan album fisik masih memiliki daya tarik yang sangat kuat di kalangan penggemar K-pop. Berbeda dengan tren industri musik global yang semakin bergantung pada layanan streaming digital, penggemar K-pop tetap antusias membeli album fisik karena biasanya dilengkapi berbagai koleksi eksklusif seperti photocard, photobook, poster, hingga merchandise edisi terbatas.
Amerika Serikat kembali menjadi pasar ekspor terbesar bagi album K-pop selama paruh pertama 2026. Nilai impor album K-pop ke negara tersebut mencapai US$74,12 juta atau sekitar Rp1,32 triliun, menjadikannya kontributor terbesar terhadap total ekspor Korea Selatan. Tingginya permintaan di AS menunjukkan bahwa popularitas K-pop terus berkembang pesat, didukung oleh konser berskala internasional, media sosial, dan platform streaming yang memperluas jangkauan artis Korea ke pasar global.
Di posisi kedua terdapat China, dengan nilai impor mencapai US$61,18 juta atau sekitar Rp1,09 triliun. Meski hubungan industri hiburan Korea dan China sempat mengalami berbagai tantangan dalam beberapa tahun terakhir, minat masyarakat China terhadap musik K-pop tetap tinggi. Banyak penggemar membeli album melalui toko daring maupun distributor internasional.
Sementara itu, Jepang menempati posisi ketiga dengan total impor sebesar US$45,61 juta atau sekitar Rp818 miliar. Sebagai salah satu pasar internasional pertama yang menerima gelombang Hallyu, Jepang masih menjadi tujuan utama ekspansi grup-grup K-pop. Banyak artis Korea secara rutin merilis album berbahasa Jepang dan menggelar tur konser di berbagai kota besar di negara tersebut.
Selain tiga pasar utama tersebut, ekspor album K-pop juga menunjukkan pertumbuhan positif di kawasan Eropa. Jerman, Taiwan, Hong Kong, Belanda, Inggris, Prancis, dan Polandia masuk dalam daftar sepuluh negara tujuan ekspor terbesar. Kehadiran sejumlah negara Eropa dalam daftar ini menunjukkan bahwa popularitas musik Korea terus berkembang di kawasan tersebut, didukung oleh meningkatnya jumlah konser, festival budaya Korea, serta komunitas penggemar yang semakin besar.
Pengamat industri hiburan menilai keberhasilan ekspor album K-pop pada paruh pertama 2026 menjadi bukti bahwa industri musik Korea masih memiliki daya saing yang sangat kuat di tengah persaingan global. Strategi pemasaran yang inovatif, kualitas produksi musik yang tinggi, serta hubungan erat antara artis dan penggemar menjadi faktor penting yang menjaga tingginya permintaan terhadap album fisik.
Kesuksesan BTS melalui album ARIRANG juga dinilai memberikan dampak besar terhadap performa industri secara keseluruhan. Selain meningkatkan penjualan album, comeback grup tersebut turut mendorong penjualan merchandise resmi, tiket konser, hingga berbagai produk kolaborasi yang berkaitan dengan industri hiburan Korea.
Memasuki paruh kedua 2026, prospek industri K-pop diperkirakan masih sangat positif. Sejumlah agensi besar telah menyiapkan comeback artis papan atas, tur dunia, serta berbagai proyek internasional yang diprediksi akan semakin meningkatkan nilai ekspor industri musik Korea Selatan. Dengan basis penggemar global yang terus bertambah dan minat terhadap budaya Korea yang semakin luas, K-pop diperkirakan akan kembali mencatatkan rekor baru hingga akhir tahun.